Senin, 14 Oktober 2013

Mempelajari Budaya Daerah



TARI TOPENG ENDEL

Kota Tegal cukup dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain karena banyaknya tempat wisata yang menarik kota Tegal juga dikenal karena “WARTEG”nya. Namun selain dikenal karena hal tersebut, Tegal juga memiliki sebuah tarian yang cukup dikenal di Indonesia yaitu tari Endel.
Tari Endel adalah salah satu warisan budaya khas kota Tegal yang semakin memperkaya budaya nasional. Bila sebuah tarian dipertontonkan di hadapan tamu khusus, seperti halnya seorang presiden, rasanya pantas bila pelaku tarian ini mendapat tempat yang layak. Namun hal ini tidak sepenuhnya berlaku pada tari Topeng Endel, sebuah tarian khas Tegal, dengan sejumlah pelakunya. Mereka yang terlibat dalam Topeng Endel ini hidup biasa-biasa saja, dengan kelebihan dan segala kekurangannya.
Tari Topeng Endel biasa dibawakan oleh satu atau dua penari bergantian. Sang penari selalu mempunyai kelompok gamelan pengiring yang terdiri dari kendang, bonang, saron, balongan dan peking. Gamelan – Jawa inilah yang mengiringi gemulainya penari Endel untuk mengeksplorasi keindahan tarian ini.
Kegenitan dak kalincahan menjadi ciri tari Topeng Endel, sesuai dengan namanya Endel, yang dalam bahasa Tegalan artinya "kenes", atau genit. Gerak penarinya seakan menggambarkan percumbuan penari dengan bayangan sang pangeran. Namun semuanya berlangsung lembut, dalam kesunyian diri, dan jauh dari desahan erotis. Gerak penari Topeng Endel lebih banyak mengikuti hentakan gamelan. Menghanyutkan, mampu menghipnotis siapa saja yang menikmatinya. Inilah sebuah tarian seksi namun dari kesan murahan atau bahkan pornografi. Topeng Endel Adalah bentuk topeng wanita dengan kostum endel yang mirip penari Gambyong. Tariannya diiringi gending lancaran ombak banyu laras slendro manyuro
Tari ini pertama dikenalkan oleh ibu Sawitri. Disinilah sesepuh tari Topeng Endel, Bu Sawitri menetap. Di Desa Selarong Lor, Kecamatan Duku Waru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Selama hampir 20 tahun, primadona tari kenes ini menghabiskan kesehariannya, sebagai penjual makanan pagi. Ibu tiga orang putra ini mengeluti tari Endel karena menurutnya tarian ini adalah tarian yang seharusnya mencerminkan sosok wanita Jawa di masa mendatang. Wanita Jawa memang terkenal dengan sikap halus , lembut keibuan dan bahkan sangat penurut ini memang sering sidalahpahamkan sehingga menimbulkan kesan bahwa wanita Jawa adalah wanita terjajah. Seyogyanya perempuan Jawa adalah wanita yang dinamis , luwes namun tidak meninggalkan “trapnya” sebagai seorang perempuan sebagaimana mestinya. Sementara urusan menari, untunglah Ibu Sawitri masih bisa meneruskan ilmunya.
Sebagai satu satunya sesepuh dan penerus tari Topeng Endel khas Tegal, Bu Sawitri yang lahir di Tegal, 60 tahun lalu ini, sadar betul bahwa tarian ini membutuhkan ketekunan. Hal yang selalu ia tekankan kepada murid-muridnya. Mungkin, sering tersirat dalam pikiran perempuan ini, pengalamannya semasa kecil ketika mempelajari gerakan tari yang dimainkan ibunya saat pertunjukan dari kota ke kota. Dari ketekunannya menyimak gemulainya gerakan sang ibunda inilah, Sawitri kecil akhirnya memperoleh kepercayaan mendampingi ibunya menari tari Topeng Endel diusianya yang ke 20 tahun.
Meski usianya tak lagi muda , beliau tidak pernah mengeluh untuk selalu mengajarkan taeri Endel ini jika ada yang masih ingin belajar kepadanya. Ketekunannya terpancar untuk terus melanjutkan keberadaan tarian ini. Ia tidak ingin tari Endel menghilang dari peradaban seni Nasional yang tidak bisa dipungkiri di jaman sekarang keeksisan tarian daerah mulai luntur ditelan oleh kebudayaan masyarakat yang baru yaitu budaya moderen. Sepasang mata wanita tua renta berkulit kerut lainnya yang tak lain ibu dari sang penerus, dengan seksama mengawasi gerakan- gerakan yang diajarkan Bu Sawitri kepada anak didiknya.
Namun tidak dapat dipungkiri kalau kemodernan zaman mulai mengikis kesenian-kesenian tradisional seperti tari Topeng Endel sendiri. Pengaruh kebudayaan dari luar negeri tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab terbesar dari hal tersebut. Anak-anak zaman sekarang jauh lebih menyukai tarian modern seperti tarian korea atau tarian jepang. Mereka menganggap tarian tradisional itu kalah kelas dibandingkan tarian tersebut. Sehingga mereka jauh lebih tertarik mempelajari tarian tersebut dibandingkan tarian-tarian tradisional seperti tari Topeng Endel.
Sebagai generasi penerus bangsa ini, seharusnya kita jauh lebih peduli terhadap tarian-tarian tradisonal. Kita harus bisa menjaga agar tarian tradisional seperti tari Topeng Endel ini tidak punah dimakan zaman. Tentunya harus ada bantuan dari pemerintah, terutama dari pemerintah daerah. Mungkin dengan mengajarkan tarian tersebut sejak dini terhadap anak-anak adalah salah satu solusi untuk menjaga tari Topeng Endel ini tetap ada. Lalu juga dengan membuka sanggar-sanggar tari dan memberikan fasilitas yang baik juga bisa menjadi solusi agar menarik minat orang-orang untuk mempelajari tari Topeng Endel tersebut.

Sumber :
komunitasbebasbicara.blogspot.com/2011/03/tari-endel-suguhan-berbeda-dari-kota_08.html

Minggu, 06 Oktober 2013

Ilmu Budaya Dasar


Unsur - Unsur Kebudayaan Beserta Hubungannya dengan Teknik Industri
Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam definisi ini, kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme kontrol" bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau sebagai "pola-pola bagi kelakuan manusia" (Keesing & Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia (Geertz, 1973b).
Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada rangsangan, digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di mana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka pertahankan.
v Unsur-Unsur Kebudayaan
Setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Kebudayaan setiap masyarakat berbeda-beda. Namun, ada unsur-unsur pokok kebudayaan yang secara umum dimiliki oleh setiap masyarakat. Unsur yang dimaksud sering disebut unsur-unsur kebudayaan universal (cultural universals).
Beberapa ahli telah merumuskan unsur-unsur kebudayaan pokok. Para ahli tersebut, di antaranya Melville J. Herskovits yang menyampaikan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik.
Sementara itu Bronislaw  Malinowski  menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:
a)      Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antaranggota masyarakat sebagai upaya menguasai alam sekitarnya.
b)      Organisasi Ekonomi.
c)       Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, termasuk keluarga sebagai lembaga pendidikan yang utama.
d)      Organisasi Kekuatan.
Adapun C. Kluckhohn dalam karyanya Universals Categories of Culture memaparkan ada tujuh unsur kebudayaan yang dianggap cultural universals, yaitu sebagai berikut:
1.       Sistem kepercayaan (sistem religi).
Setiap masyarakat memiliki keyakinan terhadap hal-hal bersifat religi, bahkan pada masyarakat atheis (tidak percaya adanya Tuhan) sekali pun.
2.       Sistem pengetahuan.
Setiap masyarakat mempunyai sistem pengetahuan yang mungkin berbeda-beda pada setiap masyarakatnya.
3.       Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
Setiap masyarakat juga memiliki pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat-alat produksi, senjata, dan sebagainya.
4.       Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi.
Dalam masyarakat selalu ada mata pencaharian atau sistem ekonomi, seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya.
5.       Sistem kemasyarakatan.
Setiap masyarakat biasanya memiliki kemasyarakatan, di antaranya, sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dan sistem pekawinan.
6.       Bahasa, baik lisan maupun tulisan.
Masyarakat mana yang tidak memiliki bahasa? Tentunya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan.
7.       Kesenian, baik seni rupa, seni suara, maupun seni lainnya.
Setiap masyarakat mempunyai berbagai macam seni yang tentunya berbeda dengan masyarakat lainnya.
v Alasan Mengapa Ilmu Budaya Dasar Harus Dipelajari
Setiap negara yang ada di dunia ini pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri banyak terdapat kebudayaan yang berbeda. Untuk itulah sebagai seorang warga negara yang baik tentunya kita harus bisa mengenali kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia ini meskipun tidak semuanya kita dapat pelajari. Ilmu budaya dasar sangatlah diperlukan dalam pembelajaran baik di tingkat pelajar maupun di tingkat mahasiswa. Karena jika masyarakat masa kini tidak mengebal kebudayaannya sendiri itu akan menjadi suatu hal yang merugikan. Oleh karena itu ilmu budaya dasar sangatlah perlu untuk dipelajari agar pelajar maupun masyarakat dapat mengenal kebudayaannya sendiri. Dengan mengenal kebudayaannya sendiri maka akan tercipta suatu masyarakat yang berbudaya dan memiliki karakter kuat di dalam bangsa ini.
v Hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri
Pada saat pertama kali saya masuk, saya cukup terkejut dengan jadwal yang ada. Pada saat itu di jadwal saya melihat adanya mata kuliah ilmu budaya dasar. Dan sempat terlintas pernyataan dari benak saya sendiri, “untuk apa seorang mahasiswa teknik mempelajari ilmu budaya dasar? ”. Hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri  ada kaitannya dengan manfaat dari mempelajari Ilmu Budaya. Dasar itu sendiri, salah satunya :
Ø  Mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru terutama untuk kepentingan profesi mereka
Ø  Mampu menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan kelompok
Ø  Mengembangkan daya kritis  tentang masalah kemánusiaan dan budaya
Ø  Agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain
Dan mungkin perlu kita ingat kembali bahwa “Ilmu budaya dasar adalah mata kuliah yang membicarakan tentang nilai – nilai, tentang kebudayan dan tentang berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari”.
Sedangkan yang dipelajari di Teknik Industri mencangkup/dibagi menjadi :
1)      Sistem Manufaktur
2)      Manajemen Industri
3)      Sistem Industri dan Tekno Ekonomi

Di dalam ketiga bagian tersebut masing-masing bagian mempelajari bagaimana
menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya, proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua Bidang Ilmu ini memiliki hubungan yaitu sama – sama mepelajari bagaimana kita menghadapi sebuah lingkungan baru baik itu dilingkungan kerja maupun dilingkungan sekitar, juga mengajarkan kita bagaimana cara kita berkomunikasi dengan lingkungan tersebut agar kita dapat menjalin dan membentuk hubungan yang harmonis antar sesama dengan memiliki bekal Ilmu Budaya Dasar ini.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_industri



Ilmu Budaya Dasar


Unsur - Unsur Kebudayaan Beserta Hubungannya dengan Teknik Industri
Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam definisi ini, kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme kontrol" bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau sebagai "pola-pola bagi kelakuan manusia" (Keesing & Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia (Geertz, 1973b).
Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada rangsangan, digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di mana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka pertahankan.
v Unsur-Unsur Kebudayaan
Setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Kebudayaan setiap masyarakat berbeda-beda. Namun, ada unsur-unsur pokok kebudayaan yang secara umum dimiliki oleh setiap masyarakat. Unsur yang dimaksud sering disebut unsur-unsur kebudayaan universal (cultural universals).
Beberapa ahli telah merumuskan unsur-unsur kebudayaan pokok. Para ahli tersebut, di antaranya Melville J. Herskovits yang menyampaikan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik.
Sementara itu Bronislaw  Malinowski  menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:
a)      Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antaranggota masyarakat sebagai upaya menguasai alam sekitarnya.
b)      Organisasi Ekonomi.
c)       Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, termasuk keluarga sebagai lembaga pendidikan yang utama.
d)      Organisasi Kekuatan.
Adapun C. Kluckhohn dalam karyanya Universals Categories of Culture memaparkan ada tujuh unsur kebudayaan yang dianggap cultural universals, yaitu sebagai berikut:
1.       Sistem kepercayaan (sistem religi).
Setiap masyarakat memiliki keyakinan terhadap hal-hal bersifat religi, bahkan pada masyarakat atheis (tidak percaya adanya Tuhan) sekali pun.
2.       Sistem pengetahuan.
Setiap masyarakat mempunyai sistem pengetahuan yang mungkin berbeda-beda pada setiap masyarakatnya.
3.       Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
Setiap masyarakat juga memiliki pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat-alat produksi, senjata, dan sebagainya.
4.       Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi.
Dalam masyarakat selalu ada mata pencaharian atau sistem ekonomi, seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya.
5.       Sistem kemasyarakatan.
Setiap masyarakat biasanya memiliki kemasyarakatan, di antaranya, sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dan sistem pekawinan.
6.       Bahasa, baik lisan maupun tulisan.
Masyarakat mana yang tidak memiliki bahasa? Tentunya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan.
7.       Kesenian, baik seni rupa, seni suara, maupun seni lainnya.
Setiap masyarakat mempunyai berbagai macam seni yang tentunya berbeda dengan masyarakat lainnya.
v Alasan Mengapa Ilmu Budaya Dasar Harus Dipelajari
Setiap negara yang ada di dunia ini pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri banyak terdapat kebudayaan yang berbeda. Untuk itulah sebagai seorang warga negara yang baik tentunya kita harus bisa mengenali kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia ini meskipun tidak semuanya kita dapat pelajari. Ilmu budaya dasar sangatlah diperlukan dalam pembelajaran baik di tingkat pelajar maupun di tingkat mahasiswa. Karena jika masyarakat masa kini tidak mengebal kebudayaannya sendiri itu akan menjadi suatu hal yang merugikan. Oleh karena itu ilmu budaya dasar sangatlah perlu untuk dipelajari agar pelajar maupun masyarakat dapat mengenal kebudayaannya sendiri. Dengan mengenal kebudayaannya sendiri maka akan tercipta suatu masyarakat yang berbudaya dan memiliki karakter kuat di dalam bangsa ini.
v Hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri
Pada saat pertama kali saya masuk, saya cukup terkejut dengan jadwal yang ada. Pada saat itu di jadwal saya melihat adanya mata kuliah ilmu budaya dasar. Dan sempat terlintas pernyataan dari benak saya sendiri, “untuk apa seorang mahasiswa teknik mempelajari ilmu budaya dasar? ”. Hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri  ada kaitannya dengan manfaat dari mempelajari Ilmu Budaya. Dasar itu sendiri, salah satunya :
Ø  Mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru terutama untuk kepentingan profesi mereka
Ø  Mampu menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan kelompok
Ø  Mengembangkan daya kritis  tentang masalah kemánusiaan dan budaya
Ø  Agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain
Dan mungkin perlu kita ingat kembali bahwa “Ilmu budaya dasar adalah mata kuliah yang membicarakan tentang nilai – nilai, tentang kebudayan dan tentang berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari”.
Sedangkan yang dipelajari di Teknik Industri mencangkup/dibagi menjadi :
1)      Sistem Manufaktur
2)      Manajemen Industri
3)      Sistem Industri dan Tekno Ekonomi

Di dalam ketiga bagian tersebut masing-masing bagian mempelajari bagaimana
menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya, proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua Bidang Ilmu ini memiliki hubungan yaitu sama – sama mepelajari bagaimana kita menghadapi sebuah lingkungan baru baik itu dilingkungan kerja maupun dilingkungan sekitar, juga mengajarkan kita bagaimana cara kita berkomunikasi dengan lingkungan tersebut agar kita dapat menjalin dan membentuk hubungan yang harmonis antar sesama dengan memiliki bekal Ilmu Budaya Dasar ini.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_industri



Ilmu Budaya Dasar


Unsur - Unsur Kebudayaan Beserta Hubungannya dengan Teknik Industri
Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam definisi ini, kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme kontrol" bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau sebagai "pola-pola bagi kelakuan manusia" (Keesing & Keesing, 1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia (Geertz, 1973b).
Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada rangsangan, digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaan yang dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di mana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka pertahankan.
v Unsur-Unsur Kebudayaan
Setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Kebudayaan setiap masyarakat berbeda-beda. Namun, ada unsur-unsur pokok kebudayaan yang secara umum dimiliki oleh setiap masyarakat. Unsur yang dimaksud sering disebut unsur-unsur kebudayaan universal (cultural universals).
Beberapa ahli telah merumuskan unsur-unsur kebudayaan pokok. Para ahli tersebut, di antaranya Melville J. Herskovits yang menyampaikan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik.
Sementara itu Bronislaw  Malinowski  menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:
a)      Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antaranggota masyarakat sebagai upaya menguasai alam sekitarnya.
b)      Organisasi Ekonomi.
c)       Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, termasuk keluarga sebagai lembaga pendidikan yang utama.
d)      Organisasi Kekuatan.
Adapun C. Kluckhohn dalam karyanya Universals Categories of Culture memaparkan ada tujuh unsur kebudayaan yang dianggap cultural universals, yaitu sebagai berikut:
1.       Sistem kepercayaan (sistem religi).
Setiap masyarakat memiliki keyakinan terhadap hal-hal bersifat religi, bahkan pada masyarakat atheis (tidak percaya adanya Tuhan) sekali pun.
2.       Sistem pengetahuan.
Setiap masyarakat mempunyai sistem pengetahuan yang mungkin berbeda-beda pada setiap masyarakatnya.
3.       Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
Setiap masyarakat juga memiliki pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat-alat produksi, senjata, dan sebagainya.
4.       Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi.
Dalam masyarakat selalu ada mata pencaharian atau sistem ekonomi, seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya.
5.       Sistem kemasyarakatan.
Setiap masyarakat biasanya memiliki kemasyarakatan, di antaranya, sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dan sistem pekawinan.
6.       Bahasa, baik lisan maupun tulisan.
Masyarakat mana yang tidak memiliki bahasa? Tentunya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan.
7.       Kesenian, baik seni rupa, seni suara, maupun seni lainnya.
Setiap masyarakat mempunyai berbagai macam seni yang tentunya berbeda dengan masyarakat lainnya.
v Alasan Mengapa Ilmu Budaya Dasar Harus Dipelajari
Setiap negara yang ada di dunia ini pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri banyak terdapat kebudayaan yang berbeda. Untuk itulah sebagai seorang warga negara yang baik tentunya kita harus bisa mengenali kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia ini meskipun tidak semuanya kita dapat pelajari. Ilmu budaya dasar sangatlah diperlukan dalam pembelajaran baik di tingkat pelajar maupun di tingkat mahasiswa. Karena jika masyarakat masa kini tidak mengebal kebudayaannya sendiri itu akan menjadi suatu hal yang merugikan. Oleh karena itu ilmu budaya dasar sangatlah perlu untuk dipelajari agar pelajar maupun masyarakat dapat mengenal kebudayaannya sendiri. Dengan mengenal kebudayaannya sendiri maka akan tercipta suatu masyarakat yang berbudaya dan memiliki karakter kuat di dalam bangsa ini.
v Hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri
Pada saat pertama kali saya masuk, saya cukup terkejut dengan jadwal yang ada. Pada saat itu di jadwal saya melihat adanya mata kuliah ilmu budaya dasar. Dan sempat terlintas pernyataan dari benak saya sendiri, “untuk apa seorang mahasiswa teknik mempelajari ilmu budaya dasar? ”. Hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan Teknik Industri  ada kaitannya dengan manfaat dari mempelajari Ilmu Budaya. Dasar itu sendiri, salah satunya :
Ø  Mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru terutama untuk kepentingan profesi mereka
Ø  Mampu menciptakan hubungan yang harmonis antar manusia dan kelompok
Ø  Mengembangkan daya kritis  tentang masalah kemánusiaan dan budaya
Ø  Agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain
Dan mungkin perlu kita ingat kembali bahwa “Ilmu budaya dasar adalah mata kuliah yang membicarakan tentang nilai – nilai, tentang kebudayan dan tentang berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari”.
Sedangkan yang dipelajari di Teknik Industri mencangkup/dibagi menjadi :
1)      Sistem Manufaktur
2)      Manajemen Industri
3)      Sistem Industri dan Tekno Ekonomi

Di dalam ketiga bagian tersebut masing-masing bagian mempelajari bagaimana
menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya, proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua Bidang Ilmu ini memiliki hubungan yaitu sama – sama mepelajari bagaimana kita menghadapi sebuah lingkungan baru baik itu dilingkungan kerja maupun dilingkungan sekitar, juga mengajarkan kita bagaimana cara kita berkomunikasi dengan lingkungan tersebut agar kita dapat menjalin dan membentuk hubungan yang harmonis antar sesama dengan memiliki bekal Ilmu Budaya Dasar ini.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_industri