Senin, 14 Oktober 2013

Mempelajari Budaya Daerah



TARI TOPENG ENDEL

Kota Tegal cukup dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain karena banyaknya tempat wisata yang menarik kota Tegal juga dikenal karena “WARTEG”nya. Namun selain dikenal karena hal tersebut, Tegal juga memiliki sebuah tarian yang cukup dikenal di Indonesia yaitu tari Endel.
Tari Endel adalah salah satu warisan budaya khas kota Tegal yang semakin memperkaya budaya nasional. Bila sebuah tarian dipertontonkan di hadapan tamu khusus, seperti halnya seorang presiden, rasanya pantas bila pelaku tarian ini mendapat tempat yang layak. Namun hal ini tidak sepenuhnya berlaku pada tari Topeng Endel, sebuah tarian khas Tegal, dengan sejumlah pelakunya. Mereka yang terlibat dalam Topeng Endel ini hidup biasa-biasa saja, dengan kelebihan dan segala kekurangannya.
Tari Topeng Endel biasa dibawakan oleh satu atau dua penari bergantian. Sang penari selalu mempunyai kelompok gamelan pengiring yang terdiri dari kendang, bonang, saron, balongan dan peking. Gamelan – Jawa inilah yang mengiringi gemulainya penari Endel untuk mengeksplorasi keindahan tarian ini.
Kegenitan dak kalincahan menjadi ciri tari Topeng Endel, sesuai dengan namanya Endel, yang dalam bahasa Tegalan artinya "kenes", atau genit. Gerak penarinya seakan menggambarkan percumbuan penari dengan bayangan sang pangeran. Namun semuanya berlangsung lembut, dalam kesunyian diri, dan jauh dari desahan erotis. Gerak penari Topeng Endel lebih banyak mengikuti hentakan gamelan. Menghanyutkan, mampu menghipnotis siapa saja yang menikmatinya. Inilah sebuah tarian seksi namun dari kesan murahan atau bahkan pornografi. Topeng Endel Adalah bentuk topeng wanita dengan kostum endel yang mirip penari Gambyong. Tariannya diiringi gending lancaran ombak banyu laras slendro manyuro
Tari ini pertama dikenalkan oleh ibu Sawitri. Disinilah sesepuh tari Topeng Endel, Bu Sawitri menetap. Di Desa Selarong Lor, Kecamatan Duku Waru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Selama hampir 20 tahun, primadona tari kenes ini menghabiskan kesehariannya, sebagai penjual makanan pagi. Ibu tiga orang putra ini mengeluti tari Endel karena menurutnya tarian ini adalah tarian yang seharusnya mencerminkan sosok wanita Jawa di masa mendatang. Wanita Jawa memang terkenal dengan sikap halus , lembut keibuan dan bahkan sangat penurut ini memang sering sidalahpahamkan sehingga menimbulkan kesan bahwa wanita Jawa adalah wanita terjajah. Seyogyanya perempuan Jawa adalah wanita yang dinamis , luwes namun tidak meninggalkan “trapnya” sebagai seorang perempuan sebagaimana mestinya. Sementara urusan menari, untunglah Ibu Sawitri masih bisa meneruskan ilmunya.
Sebagai satu satunya sesepuh dan penerus tari Topeng Endel khas Tegal, Bu Sawitri yang lahir di Tegal, 60 tahun lalu ini, sadar betul bahwa tarian ini membutuhkan ketekunan. Hal yang selalu ia tekankan kepada murid-muridnya. Mungkin, sering tersirat dalam pikiran perempuan ini, pengalamannya semasa kecil ketika mempelajari gerakan tari yang dimainkan ibunya saat pertunjukan dari kota ke kota. Dari ketekunannya menyimak gemulainya gerakan sang ibunda inilah, Sawitri kecil akhirnya memperoleh kepercayaan mendampingi ibunya menari tari Topeng Endel diusianya yang ke 20 tahun.
Meski usianya tak lagi muda , beliau tidak pernah mengeluh untuk selalu mengajarkan taeri Endel ini jika ada yang masih ingin belajar kepadanya. Ketekunannya terpancar untuk terus melanjutkan keberadaan tarian ini. Ia tidak ingin tari Endel menghilang dari peradaban seni Nasional yang tidak bisa dipungkiri di jaman sekarang keeksisan tarian daerah mulai luntur ditelan oleh kebudayaan masyarakat yang baru yaitu budaya moderen. Sepasang mata wanita tua renta berkulit kerut lainnya yang tak lain ibu dari sang penerus, dengan seksama mengawasi gerakan- gerakan yang diajarkan Bu Sawitri kepada anak didiknya.
Namun tidak dapat dipungkiri kalau kemodernan zaman mulai mengikis kesenian-kesenian tradisional seperti tari Topeng Endel sendiri. Pengaruh kebudayaan dari luar negeri tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab terbesar dari hal tersebut. Anak-anak zaman sekarang jauh lebih menyukai tarian modern seperti tarian korea atau tarian jepang. Mereka menganggap tarian tradisional itu kalah kelas dibandingkan tarian tersebut. Sehingga mereka jauh lebih tertarik mempelajari tarian tersebut dibandingkan tarian-tarian tradisional seperti tari Topeng Endel.
Sebagai generasi penerus bangsa ini, seharusnya kita jauh lebih peduli terhadap tarian-tarian tradisonal. Kita harus bisa menjaga agar tarian tradisional seperti tari Topeng Endel ini tidak punah dimakan zaman. Tentunya harus ada bantuan dari pemerintah, terutama dari pemerintah daerah. Mungkin dengan mengajarkan tarian tersebut sejak dini terhadap anak-anak adalah salah satu solusi untuk menjaga tari Topeng Endel ini tetap ada. Lalu juga dengan membuka sanggar-sanggar tari dan memberikan fasilitas yang baik juga bisa menjadi solusi agar menarik minat orang-orang untuk mempelajari tari Topeng Endel tersebut.

Sumber :
komunitasbebasbicara.blogspot.com/2011/03/tari-endel-suguhan-berbeda-dari-kota_08.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar