DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP
PERKEMBANGAN MENTAL INDIVIDU
Setiap manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam
kehidupannya. Individu tidak dapat hidup sendiri meskipun orang itu sangat
mandiri. Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau
pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota
keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Dukungan sosial mencakup dukungan informasi berupa
saran nasehat, dukungan perhatian atau emosi berupa kehangatan, kepedulian dan
empati, dukungan instrumental berupa bantuan materi atau finansial dan
penilaian berupa penghargaan positif terhadap gagasan atau perasaan orang lain.
Dukungan atau bantuan yang berasal dari orang yang memiliki hubungan sosial
akrab dengan individu yang menerima bantuan. Bentuk dukungan ini dapat berupa
infomasi, tingkah laku tertentu, ataupun materi yang dapat menjadikan individu
yang menerima bantuan merasa disayangi, diperhatikan dan bernilai.
Semua konflik dan
tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan
dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan
kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam
keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
Rasa dekat dengan keluarga adalah salah
satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam prakteknya
banyak orangtua yang mengetahui hal ini namun mengabaikannya dengan alasan
mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan
ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Hal ini seringkali
ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi,
diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam
jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak) maka akan
sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri di
kemudian hari. Meskipun bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, karena remaja
sudah lebih matang tingkat pemahamannya, namun tidak menutup kemungkinan pada
beberapa remaja kondisi tersebut akan membuat dirinya tertekan, cemas dan
stres.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas
maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan harus diperhatikan. Orang
tua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan dan
penjagaan pada anaknya; jangan semata-mata menyerahkannya pada pembantu. Jangan
sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain karena hal
demikian dapat membuat anak tidak memiliki rasa aman.
Lingkungan keluarga juga merupakan
lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui
permainan, senda gurau, sandiwara dan pengalaman-pengalaman sehari-hari di
dalam keluarga. Tidak diragukan lagi bahwa dorongan semangat dan persaingan
antara anggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki pengaruh yang
penting dalam perkembangan kejiwaan seorang individu. Oleh sebab itu, orangtua
sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti
olehnya atau sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan olehnya, sebab hal
tersebut memupuk rasa putus asa pada jiwa individu tersebut.
Dalam keluarga individu juga belajar
agar tidak menjadi egois, ia diharapkan dapat berbagi dengan anggota keluarga
yang lain. Individu belajar untuk menghargai hak orang lain dan cara
penyesuaian diri dengan anggota keluarga, mulai orang tua, kakak, adik, kerabat
maupun pembantu. Kemudian dalam lingkungan keluarga individu mempelajari dasar
dari cara bergaul dengan orang lain, yang biasanya terjadi melalui pengamatan
terhadap tingkah laku dan reaksi orang lain dalam berbagai keadaan. Biasanya
yang menjadi acuan adalah tokoh orang tua atau seseorang yang menjadi idolanya.
Oleh karena itu, orangtua pun dituntut untuk mampu menunjukkan sikap-sikap atau
tindakan-tindkan yang mendukung hal tersebut.
Dalam hasil
interaksi dengan keluarganya individu juga mempelajari sejumlah adat dan
kebiasaan dalam makan, minum, berpakaian, cara berjalan, berbicara, duduk dan
lain sebagainya. Selain itu dalam keluarga masih banyak hal lain yang sangat
berperan dalam proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat,
seperti rasa percaya pada orang lain atau diri sendiri, pengendalian rasa
ketakutan, toleransi, kefanatikan, kerjasama, keeratan, kehangatan dan rasa
aman karena semua hal tersebut akan berguna bagi masa depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar